Opini, komodoindonesiapost.com – KOQ BISA (-3)
Ini yang ganjil; makin ke sini, rambut makin menipis, makin panjang litani koq bisa, koq bisa; akhir-akhir ini koq bisa ya seorang anak yang sudah besar dan berkuasa, membelot ke rumah orang setelah memberaki piring makan yang disajikan ibunya.
Koq bisa? di manakah adab budaya timur yang menjunjung tinggi asal muasal dari mana dan ke mana hidupnya? di manakah budaya yang membadankan nila-nilai luhur kemanusiaan dan kesopanan?
Koq bisa ya, kekuasaan memabukkan penggenggamnya dan lupa awal mula, lupa daratan lalu membelokkan sauh ke tepian lain yang tak dikehendaki ibunya, koq bisa? akhirnya aku berpikir, begitulah jika seorang anak yang sudah hebat kekuasaannya mengidentikkan dirinya dengan kekuasaan yang digenggamnya
Padahal terang benderang konstitusi negaranya membatasi sepuluh tahun kekuasaannya dan bisa-bisanya dia berusaha melabrak aturan itu agar dia berkuasa lebih dari sepuluh tahun; koq bisa ya, dia tetap dalam rumah ibunya tetapi ke rumah orang lain untuk memenangkan dirinya? di manakah budaya leluhur yang menjunjung tinggi etika?
Koq bisa ya, dia dengan tahu dan mau, menggunakan instrument negara untuk meraih mimpi pribadinya, bukan mimpi ibu pemilik rumah di mana dia dibesarkan dari dia tidak punya apa-apa hingga kini dia menjadi siapa-siapa, menjadi orang hebat pula di seantero nusantara; koq bisa budaya leluhur yang menjunjung tinggi rasa malu dilupakan begitu saja
Lalu di Gedung Mahkamah; koq bisa ya seorang mantan hakim ketua lebih memilih bertahan di kursinya karena alasan legal daripada etika; padahal sudah terbukti dia melanggar berat etika; koq bisa ya dia senyam senyum dan mengatakan dirinya tidak melanggar undang-udang; bukankah etika lebih tinggi dari aturan dan undang-undang? koq bisa ya nurani seorang hakim menipis setipis kain sutera?
Di kantor kehakiman dan kantor pemberantasan korupsi; koq bisa ya seorang wakil menteri di kehakiman dan seorang ketua di kantor pemberantasan korupsi, sudah dinyatakan tersangka tapi tidak mundur? di manakah rasa malu yang menjadi kebanggaan leluhur? koq bisa ya, mati-matian mereka menunggu pasal dan ayat yang membuktikan mereka bersalah barulah menyatakan diri mereka mundur
Koq bisa, orang-orang pinter sekaliber itu tidak mampu membedakan apa yang bisa dan tidak boleh dan apa yang boleh tapi tak bisa lalu apa yang bisa dan boleh? oh Semesta, dari manakah ketololan ini berasal? ibu bumi kami melahirkan anak-anak yang melek adab; oh Semesta, dari manakah kebiadaban berasal? koq bisa sekarang-sekarang ini nir-adab berkecambah seperti jamur di musim penghujan
***(BERSAMBUNG…)
Penulis : Gerard N. Bibang